Contoh Teks Monolog Tentang Pandemi Corona

 CONTOH TEKS MONOLOG TENTANG PANDEMI CORONA

MEMBERIKAN INFORMASI MENGENAI DAMPAK CORONA DARI DUA SUDUT PANDANG BERBEDA

SUDUT PANDANG 1: SEBAGAI MAHASISWA

SUDUT PANDANG 2: SEBAGAI PEMULUNG

Teks

Blank background sambal bicara:

Aku: Assalamualaikum. Ibu aku pulang.

Ibu: Habis darimana?

Aku: Ngambil buku ketinggalan di kampus, Bu, aku masuk kamar dulu ya

Suara pintu ke buka.

Masuk kamar sambil menggendong tas. Menghembuskan nafas lelah dan pusing karena banyak tugas. Memukulkan map ke meja sebagai bentuk kekesalan.

AKU POV

Banyak sekali tugas kampus yang diberikan. Tidak capek apa para dosen itu. (sambil menggelengkan kepala)

Membuka HP mengecek berita

Astaghfirullah… Berita apa lagi ini. Baca berita.

Sejak diberlakukan pada 10 April 2020, PSBB menyisakan banyak celah. Kebijakan yang dibuat untuk memutus mata rantai Covid-19 itu nyatanya banyak dilanggar. Tak hanya oleh warga secara perorangan, tapi juga korporasi yang tidak masuk sektor yang diperbolehkan beroperasi.

Bagaimana corona akan hilang kalau seperti ini?

Tadi saja, aku pergi ke kampus sebentar, malah bertemu pemulung di depan kampus. Tanpa masker lagi. Aku bagi saja lah dia masker. Untung aku punya.

Aku tanya lah ke dia, “Bapak, ini dalam masa PSBB, bapak kok malah kerja ya pak?”

PEMULUNG POV

Menghembuskan napas.

Bagaimana lagi ya, dek… Bapak sudah tidak punya sumber penghasilan lagi. Ini makan sehari-hari saja kadang hanya satu kali. Parahnya malah tidak makan sama sekali. Kasihan saya sama anak istri saya.

AKU POV

Bapak itu berkata seperti itu. Sebenarnya aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tanya saja kepada bapak itu, begini.

Aku Ikut menghela napas

Bapak, memang tidak ada sumbangan sembako ya, pak dari pemerintah. Saya dengar mereka bagi sembako di daerah ini, pak”

PEMULUNG POV

Benar dek, memang ada. Tetapi bapak kemarin kesana antriannya berdesakan sekali. Sudah diingatkan, mereka tidak mau antri dengan jarak 1 meter. Jadi, bapak pikir lebih baik bapak memulung saja daripada berdesakan.

AKU POV

Tidak habis pikir aku memang. Sudah diberi sembako gratis hanya syarat antri jarak 1 meter saja tidak mau. Mau bagaimana lagi coba ini Indonesia menghadapi virus corona. Ya Tuhan, semoga saja musibah ini segera diangkat. Dan selagi ada kebjakan sosial distancing ini, masyarakat yang tidak punya pekerjaan tetap bisa terpenuhi kebutuhannya.

Yaa, semoga saja. Aku juga mau ngampus lagi. Bertemu teman-teman. Membahas hal-hal menarik. Pasti seru sekali. Memang ya, covid-19 ini berdampak pada banyak hal.

Coba bayangkan saja. Berapa prioritas negara harus terhenti. Pendidikan tidak efektif. Banyak wisuda ditunda. Banyak waktu berbagi ilmu terbuang begitu saja. Penerus masa depan negeri ini terancam.

Aku juga merasa kasihan dengan para tenaga medis. Pejuang garda terdepan. Mereka kalau mau bertemu anak sendiri saja harus mikir berulang-ulang kali. Tapi ada saja oknum yang sudah dilarang untuk mudik, tetsp saja mudik. Di rumah ada gejala terkena virus, periksa ke rumah sakit, tidak mau jujur. Coba tolong dipikirkan lagi. Berapa banyak lagi manusia yang harus terkena dampaknya.

Musibah ini kita hadapi bersama-sama. Saling menguatkan. Bukan saling menjatuhkan. Jujur menjadi salah satu kuncinya. Manusia diciptakan untuk hidup berdampingan, makhluk sosial. Mari bersama-sama menghadapi ujian ini.

Ah sudahlah, aku mau mengerjakan tugas dulu.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teks Eksposisi beserta pengertian, struktur, ciri-teks, fungsi-sosial, unsur-bahasa, dan contoh

Contoh Teks Eksplanasi Fenomena Sosial